Perkantoran Hijau Arkadia, Tower A, Lt. 3
Jl. Letjen. TB. Simatupang Kav. 88 Jakarta 12520 Indonesia
Tel. : (021) 782-7660 (Hunting) Fax. : (021) 782-7663/4
Indonesia | English



Article
 
 

Jakarta, 28 Aug 2008

Overload Cairan

OVERLOAD CAIRAN

Overload atau kelebihan cairan tubuh, lazim disebut dengan istilah “Overhidrasi”, hal ini terjadi karena berlebihannya cairan total tubuh kita atau secara relatif berlebihnya cairan tubuh pada satu atau beberapa kompartemen cairannya.
Seperti klasifikasi saat dehidrasi, overload cairanpun dibagi menjadi tipe isotonik, hipotonik dan hipertonik. Untuk tipe isotonik dan hipotonik yang sering dijumpai sehari-hari akan dibahas secara lebih mendalam seperti berikut ini.

Overload Tipe Isotonik.
Lazim disebut “hipervolume” adalah berlebihnya cairan pada kompartemen ekstraseluler (ECF) baik di intersisial atau di intravaskuler. Dibandingkan dengan dehidrasi isotonik, overload isotonik justru jarang terjadi, karena tubuh punya mekanisme kompensasi yang demikian baiknya untuk mencegah overload isotonik kearah yang lebih berat.
Mekanisme Kompensasi Tubuh
Saat fungsi ginjal masih baik, peningkatan tekanan darah karena overload cairan akan membuat preload jantung meningkat begitupun kekuatan pompa otot jantung, dengan demikian “cardiac output” akan turun (hukum Starling’s). Hal lainnya adalah karena aliran darah ke ginjal dan filtrasi Glomerulus juga akan meningkat dan menyebabkan pengeluaran air dan natrium melalui ginjal akan meningkat pula.
Implikasi pada Usia Lanjut
Overload cairan pada pasien dengan penurunan fungsi jantung jelas akan memperburuk kondisi pasien kearah gagal jantung atau udem pulmonal. Hal ini akan menjadi masalah pada pasien dengan usia lanjut yang diketahui sering disertai gejala penurunan fungsi jantung dan masalah kardiovaskuler lainnya.
Faktor Penyebab.
Overload isotonik disebabkan oleh asupan cairan yang berlebihan baik secara oral, melalui infus, atau saat irigasi hebat pada rongga atau organ tubuh (misal: kelebihan cairan saat irigasi kandung kemih pasien, penggunaan enema yang berlebihan) dan kesalahan penggunaan cairan infus hipotonik saat mengganti kehilangan cairan isotonik.

Overload Tipe Hipotonik.
Lazim disebut “Keracunan Air”. Ketidakseimbangan cairan tubuh dimana seluruh tubuh akan berada dalam keadaan hipotonik, disertai dengan osmolaritas tubuh menurun. Sehingga didalam tubuh, cairan ekstraseluler akan pindah ke kompartemen intraseluler. Terjadi expansi air berlebihan diseluruh kompartemen cairan dan kadar elektrolit berkurang karena dilusi (rendahnya elektrolit serum). Dalam kondisi berpindahnya cairan seperti ini, tubuh sangat sulit mengkompensasinya.
Faktor penyebab tubuh menjadi overload hipotonik adalah SIADH (kumpulan gejala karena malfungsi hormon antidiuretik), asupan air yang berlebihan dan pasien dengan gagal jantung. Perhatikan pasien dengan usia lanjut sering disertai dengan gagal jantung kongestif.

Penatalaksanaan

Pemeriksaan Fisik.
Pasien dengan overload cairan, terjadi perubahan pola kardiovaskuler, seperti tabel dibawah ini.
Tabel tanda klinis berhubungan dengan overload isotonik.

Nadi tak teratur
Tensi meningkat
Denyut nadi menyempit
Sesak nafas
Moist cracles
Edema (menetap) di ekstremitas bawah dan tl ekor
Edema disekitar periorbital
Meningkatnya BB
Penurunan Hb dan Hematokrit

Gejala tambahan lainnya yang banyak ditemukan saat pemeriksaan pasien adalah level kesadaran yang menurun, bingung (karena oksigenasi ke otak berkurang), kelemahan otot rangka, dan peningkatan bising usus. Gejala ini berhubungan dengan overload cairan yang disertai dengan defisit elektrolit, terutama natrium dan kalium.

Penegakan Diagnosa.
Pasien dengan isotonik overload elektrolit serumnya normal, sedangkan kadar Hb dan hematokritnya turun karena hemodilusi. Bila dicurigai kausanya adalah gagal ginjal, akan terjadi peningkatan dari kadar: elektrolit, BUN dan kreatinin karena ekskresi yang menurun. Sebaliknya pada overload hipotonik, akan disertai turunnya elektrolit darah (dilusional) disertai dengan protein, Hb serta hematokrit yang juga menurun (hemodilusi).

TATA LAKSANA TERPADU.

Terapi medis.
Tujuan terapi pasien dengan overload hipotonik adalah mengembalikan keseimbangan air, mengatasi ketidakseimbangan elektrolit yang muncul dan mengatasi serta mengontrol penyebab utamanya.
Sementara pada overload isotonik, bila fungsi ginjal masih baik, penggunaan diuretik untuk ekskresi bisa dipertimbangkan. Mannitol (osmotik diuresis) akan menyebabkan pengeluaran air lebih banyak dibanding natrium. Bila tidak efektif, misal pasien dengan gagal jantung kongestif atau udem paru, pemilihan diuretik kuat (loop) secara IV bolus atau oral bisa dipertimbangkan, misal golongan furosemide (Lasix). Tentu saja dengan catatan diikuti dengan diet rendah asupan air atau natrium.
Monitorlah dengan seksama pasien dengan udem paru dan komplikasi serius dari gagal jantung kongestif kiri dengan cara pemasangan kateter Vena sentral (CVP), agar peningkatan tekanan di atrium kanan atau vena cava terpantau. Bila nilainya lebih dari 11 mmH2O pasti terjadi overload cairan. Dan pada kondisi yang lebih kritis, pemantauan hemodinamik untuk menilai sisi kiri dan kanan jantung wajib dilakukan. Saat ada tanda kenaikan tekanan mengindikasikan adanya overload cairan.

Intervensi keperawatan.
Bila terjadi udem, saat perawatan akan ditemukan tanda ‘Pitting’ (bekas tekanan jari di kulit, sehabis ditekan). Pengamatan serial dalamnya ”pitting” akan bisa membantu mengevaluasi perbaikan atau perburukan dari udem yang terjadi. Amati pula lokasi udem dan catatlah. Pemeriksaan lingkar kaki/ankle juga sangat membantu, hanya perlu dibedakan dengan penyebab pembesaran lainnya, misal tomboflebitis, dimana pembesaran yang terjadi pasti bukan karena overload cairan.
Efektifitas pengukuran berat badan dalam monitor keberhasilan penatalaksanaan overload cairan sangatlah bermakna, maka timbanglah pasien setiap hari sebelum sarapan dengan alat timbangan yang sama. Catatlah asupan dan pengeluaran air harian pasien dengan baik, sehingga efektifitas dari terapi diuretik pun bisa dievaluasi dengan cara ini.
Merupakan suatu tugas utama dalam keperawatan untuk mencegah terjadinya overload cairan ini dan mengenali gejalanya. Termasuk pengawasan seksama terhadap tetesan infus dan memilih cairan infus dengan kandungan elektrolit yang sesuai.
Pasien neonatus, anak-anak dan usia lanjut, yang memiliki risiko tinggi terjadi overload cairan saat di infus, pastilah sangat diperlukan perhatian dan monitor yang jauh lebih intensif lagi.

Referensi:
  1. Bove, LA; How fluids and electrolytes shift after surgery; Nursing9424(8), 1994, p.34-40
  2. Burns, D; Working up thirst: Nursing Times 88(26);1992;p.44-45
  3. Byers,JF & Goshorn, J; How to manage diuretic therapy; 1995; American Journal of Nursing 95(2);p.38-44
  4. Dennison, R & Blevins, B; Myths and facts about fluid imbalance; Nursing 92 22(3); p.22.
  5. Guyton, A; Textbook of Medical Physiology;Philadelphia;WB Saunders:1995;
  6. Jones, A, et al; Fluid volume dynamics. Crit Care Nurse;11(4); 1990, p.74-76;
  7. Price, SA; Pathophysiology; Clinical concepts of disease precesses;St Louis:Mosby; Year Book; 1992;
  8. Watt, S; Quenching the body’s thirst; New Zealand Nursing journal 84(10);1991;p.18-19.

Dr. Budhi Santoso
Sr Medical Advisor
budhi@ho.otsuka.co.id

 
     
  Artikel Lainnya  
 

26 Sep 2012 | Article

Informasi tentang HIV dan AIDS


 
     

 
 
 

Bagaimana menurut anda situs Otsuka ini ?

  

  

  

  

  

Getting poll results. Please wait...
 
  SELL BUY
USD10000.009700.00
SGD7964.027864.02
HKD1290.901274.80
AUD9525.759201.75
JPY105.71101.65
EUR13408.9012977.90

6/19/2013 16:17 WIB



Corporate eMail
 
This site has been accessed 4773245
times
 

 

All Right Reserver by Otsuka PT.