| |
Jakarta, 28 Dec 2009
Peran Pletaal pada penyakit cerebrovascular
Peran Pletaal pada penyakit cerebrovascular
Resiko kejadian cerebrovaskular pada pasien dengan penyakit pembuluh darah perifer ringan maupun sedang, adalah bermakna. Analisa post hoc dari CASTLE diambil untuk mengevaluasi penggunaan Pletaal pada kejadian cerebrovaskular pada 1435 pasien dengan penyakit oklusi arteri perifer yang ringan maupun sedang. Semua kejadian cerebrovaskular pada penelitian ini disertakan (stroke, transient ischemic attackd an carotid revascularization). Analisa Kaplan Meier digunakan untuk evaluasi statistik.
Rata- rata semua kejadian cerebrovascular 4,6% (67 dari 1435 pasien) dengan follow-up rata- rata 515 hari. Kejadian ischemic vascular lebih sering terjadi (2.5%) dibandingkan kejadian hemoragik (0,3%;p<0.05). Kelompok plasebo memperlihatkan resiko yang lebih besar untuk kejadian kejadian cerebrovaskular (6.1%; 43 dari 718 pasien) dibandingkan kelompok yang mendapat terapi Pletaal (3.2%; 24 dari 717 pasien; p<0.05). Pada penelitian ini resiko faktor untuk cerebrovaskular sama pada kedua kelompok (1).
Kami menyimpulkan Pletaal mempunyai keuntungan mencegah stroke pada pasien dengan penyakit arteri perifer. Selain pada pasien dengan penyakit arteri perifer, penggunaan Pletaal pada pasien dengan penyakit jantung koroner maupun penyakit cerebrovaskular/ stroke juga memperlihatkan pengurangan resiko yang bermakna untuk kejadian cerebrovaskular/stroke.
Data dari 12 penelitian randomized control, yang melibatkan 5674 pasien, dianalisa dengan tujuan akhir (end points) : kejadian cerebrovaskular, jantung dan kejadian perdarahan mayor.
Data berasal dari 3782 pasien dengan penyakit arteri perifer, 1187 dengan penyakit cerebrovaskular dan 705 dengan coronary stenting. Kejadian vascular lebih rendah bermakna pada kelompok Pletaal dibanding kelompok plasebo (resiko relatif (RR) 0.86;95% CI confidence interval ,0.74-0.99; p=0.038. Ini terutama dipengaruhi oleh penurunan yang bermakna dari kejadian cerebrovaskular pada kelompok Pletaal (RR o.58; 95%CI, 0.43-0.78; p<0.001).
Tidak ada perbedaan yang bermakna untuk kejadian jantung koroner antar kedua kelompok (RR 0.99;95% CI, 0.83-1.17; p=0.908) juga untuk komplikasi perdarahan yang serius (RR, 1.00; 95%CI, 0.66-1.51; p=0.996 ) (2)
Pengobatan dengan penghambat PDE 3 (Pletaal) dapat mengurangi resiko kejadian cerebrovaskular pada pasien atherothrombosis (Penyakit arteri perifer, stroke , jantung koroner) dan tidak meningkatkan resiko perdarahan.
Referensi :
- Stone WM et al. Type 3 phosphodiesterase inhibitors may be protective against cerebrovascular events in patients with claudication. J stroke cerebrovasc dis 2008 May-Jun;17(3):129-33.
- Uchiyama S et al. Stroke prevention by cilostazol in patients with atherothrombosis: meta-analysis of placebo-controlled randomized trials. J Stroke Cerebrovasc2009 Nov-Dec;18(6):482-90.
Dr. Elizabeth Jonosewojo
Ass. Medical Director
elizabet@ho.otsuka.co.id
|
|